TIMES SRAGEN, MADIUN – Gedung DPRD Kota Madiun menjadi sasaran kemarahan massa pengunjuk rasa.
Gedung legislatif jadi sasaran lemparan botol, batu dan petasan. Bahkan sempat ada yang melempar bom molotov dan tersulut. Namun api segera padam ketika aparat keamanan menyemprotkan water canon sekaligus untuk membubarkan massa.
Unjuk rasa yang diikuti mahasiswa, buruh, driver ojek online serta elemen masyarakat sipil lainnya itu semula terkendali. Namun akhirnya berakhir ricuh.
Tanda-tanda adanya tindakan anarkis sudah terlihat ketika massa mulai berkumpul di depan gedung dewan. Sejumlah massa melempar gedung dewan dengan batu dan botol. Serta merobek spanduk besar di gerbang masuk yang tertutup.
Aksi tersebut berhenti ketika rombongan mahasiswa, buruh dan driver ojol datang dan koordinator lapangan (korlap) meminta agar massa tenang. Orasi juga sempat berlangsung di depan gerbang gedung dewan.
Saat orasi berlangsung, massa yang jumlahnya di kisaran 2 ribu orang tersebut masih terlihat duduk dengan tertib. Bahkan aparat keamanan yang berada di balik gerbang juga ikut duduk. Korlap aksi menyerukan tuntutan yakni reformasi DPR RI dan reformasi Polri.
Beberapa kali seruan yang mengarah provokasi berhasil diredam.
Pintu gerbang gedung DPRD Kota Madiun jebol dirusak peserta aksi unjuk rasa. (FOTO: Yupi Apridayani/TIMESIndonesia)
Ketua DPRD Kota Madiun Armaya dan Kapolres Madiun Kota AKBP Wiwin Juniarto Supriyadi sempat keluar menemui massa dan berdialog.
"Kami akan menyampaikan tuntutan anda semua ke DPR RI," ujar Armaya.
Sementara Kapolres Kota Madiun AKBP Wiwin Juniarto menyampaikan bela sungkawa atas meninggalnya Affan Kurniawan driver ojol pada aksi unjuk rasa di Jakarta.
Kapolres dan Ketua DPRD kemudian menandatangani naskah tuntutan peserta aksi. Namun, setelah penandatanganan, mendadak situasi memanas.
Dari arah belakang terlihat lemparan botol ke arah kerumunan ketua DPRD dan kapolres. Selanjutnya situasi tidak terkendali. Lemparan batu dan botol makin banyak.
Massa juga merangsek maju. Melihat situasi tidak kondusif, peserta aksi dari elemen mahasiswa ditarik mundur dan meninggalkan lokasi.
Sementara massa yang sebagian besar remaja belasan tahun semakin anarkis. Tidak hanya melempar batu dan botol, mereka juga memanjat pagar tembok gedung DPRD. Aparat berusaha meredam dengan semburan water canon.
Namun massa terus mendesak maju dan merusak pagar gerbang.
Mereka yang berhasil masuk terus melempari gedung DPRD dengan batu. Akibatnya, pintu dan jendela kaca gedung paripurna hancur. Sementara potongan besi pagar gerbang DPRD dibawa pergi peserta aksi.
Aksi anarkis mereda ketika salah seorang korlap menyerukan sholawat dan meminta massa tenang. Meskipun lemparan batu berhenti sejumlah massa tetap terlihat bertahan di depan gedung DPRD Kota Madiun. Aparat keamanan juga menyekat jalan raya utama menuju ke gedung dewan saat massa aksi berangsur membubarkan diri. (*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: Massa Aksi Jebol Gerbang Gedung DPRD Kota Madiun
Pewarta | : Yupi Apridayani |
Editor | : Wahyu Nurdiyanto |